Case Studies

Most people don’t give much thought to what happens to flowers that are used for ceremonial and religious purposes, the leftovers of tea bags and many other kind of food we are consuming on daily basis.

But not Merdi Sihombing, an Indonesian Eco Fashion Designer and Activists, has been practicing the use of such organic waste as natural dye for clothing and accessories for the past more than 10 years. Turning organic waste into a fashion statement.

***

Kebanyakan orang tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi pada bunga yang digunakan untuk keperluan seremonial dan religius, sisa kantong teh dan banyak jenis makanan lain yang kita konsumsi setiap hari.

Tapi tidak demikian halnya dengan Merdi Sihombing, Perancang Busana dan Aktivis Eco Fashion Indonesia, telah mempraktikkan penggunaan limbah organik tersebut sebagai pewarna alami untuk pakaian dan asesoris, selama lebih dari 10 tahun terakhir. Mengubah sampah organik menjadi sebuah pernyataan fesyen.

Merdi Sihombing

Community  Development project supported by The Ministry of Industry of Republic of Indonesia – General Directorate for SMES and Entrepreneurship the Republic of Indonesia 2016

Batik Banyuwangi, recycling the waste of local fruits, sawdust from furniture factories, and shrubs (Batik Banyuwangi yang mendaur ulang limbah hasil panen buah-buahan lokal, pabrik-pabrik furnitur, dan semak belukar)
Batik Banyuwangi, recycling the waste of local fruits, sawdust from furniture factories, and shrubs (Batik Banyuwangi yang mendaur ulang limbah hasil panen buah-buahan lokal, pabrik-pabrik furnitur, dan semak belukar)

Swarnafest 2015

Recycling the waste of seaweed into natural coloring for Rote Ikats textile (Daur ulang limbah rumput laut menjadi pewarna alami untuk tekstil Rote Ikat)
Recycling the waste of seaweed into natural coloring for Rote Ikats textile (Daur ulang limbah rumput laut menjadi pewarna alami untuk tekstil Rote Ikat)

Swarnafest 2013

Recycling the waste of bio marine, such as squids and marine cucumber, into natural coloring for Alor ikats textile (Daur ulang limbah biota laut, seperti cumi-cumi dan timun laut, menjadi pewarna alami tekstil ikat Alor)
Recycling the waste of bio marine, such as squids and marine cucumber, into natural coloring for Alor ikats textile (Daur ulang limbah biota laut, seperti cumi-cumi dan timun laut, menjadi pewarna alami tekstil ikat Alor)
Recycling the waste of bio marine, such as squids and marine cucumber, into natural coloring for Alor ikats textile (Daur ulang limbah biota laut, seperti cumi-cumi dan timun laut, menjadi pewarna alami tekstil ikat Alor)
Recycling the waste of bio marine, such as squids and marine cucumber, into natural coloring for Alor ikats textile (Daur ulang limbah biota laut, seperti cumi-cumi dan timun laut, menjadi pewarna alami tekstil ikat Alor)

Community Development project supported by The Ministry of Industry of Republic of Indonesia – General Directorate for SMES and Entrepreneurship the Republic of Indonesia
2014

Toba Blue, using the color of Indigo plants that thrives on the edge of lake Toba, used for the process of dyeing yarn to be woven into ulos. Toba Blue is also used as a natural color ingredient on an extinct uis batu jala in the Karo culture. The batu jala technique is the same as the tie & dye (Toba Blue, menggunakan warna dari tumbuhan Indigo yang tumbuh subur dipinggiran danau toba, digunakan untuk proses pencelupan benang yang akan ditenun menjadi ulos. Toba Blue juga digunakan sebagai bahan penvelup pada uis batu jala yang sudah punah dalam budaya Karo. Teknik batu jala sama dengan jumputan)
Toba Blue, using the color of Indigo plants that thrives on the edge of lake Toba, used for the process of dyeing yarn to be woven into ulos. Toba Blue is also used as a natural color ingredient on an extinct uis batu jala in the Karo culture. The batu jala technique is the same as the tie & dye (Toba Blue, menggunakan warna dari tumbuhan Indigo yang tumbuh subur dipinggiran danau toba, digunakan untuk proses pencelupan benang yang akan ditenun menjadi ulos. Toba Blue juga digunakan sebagai bahan penvelup pada uis batu jala yang sudah punah dalam budaya Karo. Teknik batu jala sama dengan jumputan)