Facts

Culture vs Economic Growth

Each ethnic hold their own uniqueness in practicing traditional textile passing it down from generation to generation, in exactly the same ways of weaving technique, coloring, pattern, choice of thread, textile processing and fashion style, without any thought process of coping up with the current trend, sustainability, large distribution for future businesses, fair-trade practice and the fact that this richness of culture is a huge potential for tourism and fashion industry that can lead into a significant contribution to both domestic and national economic growth.

Fair Trade to Losing Identity

Current supply chain with high involvement of middle men has created low prices, poor working conditions, and unfair deals for farmers, craftsmen, workers and producers across Indonesia, which led to the decline of local industry.

As a result of preserving cultures deemed incapable of sustaining the cost of living so as to display a sense of pride in tradition, while on the other hand, with the spread of modern and western cultures considered more adaptable and more promising, has led younger generation to abandon local cultures and lose their own ethnicity identity.

Benefit of Abundance Water Source vs Waste

The abundance of water sources in Indonesia is one the key factors that make the productivity of Indonesian garment industry ranking 9th and the textile industry ranking 11th worldwide with a market value of USD 15.9 billion in 2015. More than 200 international clothing brands manufacturing in Indonesia and exploit local water resources. Poor sewerage causes polluted water flow. Toxic substances go through water and are dangerously consumed by local residents. Unprocessed waste colors from the textile production cover the water surface and block the photosynthesis process, thus reduce oxygen in the water, which in return threatens its whole microorganism.

Modest Wear vs Environment

For many Muslim women, the flowy abaya coupled with a headscarf that drapes over the neck and chest is the easiest combination that complies with the modest dress code. However, these garments are often the barrier in fulfilling her responsibilities in conserving the environment. Oftentimes, they are made of polyester, rayon and nylon – synthetic fabrics that have damaging effects on the environment. They are created by a number of complex chemical processes and treatments that deteriorate the ecosystem through the emission of pollution and intensive energy consumption.

It is important to note that it is also about reducing the amount of trees harvested because so much raw material is required for one piece of abaya, reducing the amount of clothing in the landfill and reducing the negative impacts of agro-chemical products used in the production of conventional fiber plants, e.g. cotton.

Culture vs Economic Growth

Kebudayaan pembuatan kain & pakaian tradisional terus diturunkan dari generasi ke generasi, dengan cara-cara yang sama, baik dari sisi penenunan, pewarnaan, pembuatan corak, pemilihan benang, teknis proses kain dan gaya fesyen, tanpa adanya pemikiran untuk mengikuti trend fesyen saat ini, menjangkau distribusi yang lebih luas,masa depan bisnis, perdagangan yang adil dan kesadaran bahwa sesungguhnya kekayaan budaya tekstil Indonesia adalah sebuah potensi besar di bidang pariwisata dan industri fesyen yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi baik domestik maupun nasional.

Fair Trade to Losing Identity

Rantai distribusi saat ini dengan keterlibatan kuat agen yang mengakibatkan terciptanya harga rendah, kondisi kerja yang buruk, dan kesepakatan tidak adil bagi petani, pengrajin, pekerja dan produsen di seluruh Indonesia, yang berujung pada semakin terpuruknya industri lokal.

Akibat dari melestarikan budaya yang dianggap tidak mampu menopang biaya hidup sehingga berdampakan pada rasa kebanggaan terhadap tradisi, sementara disisi lain, dengan kuatnya penyebaran budaya modern dan barat yang dianggap lebih mudah diadaptasi dan lebih menjanjikan, telah membawa generasi muda meninggalkan kebudayaan lokal dan kehilangan identitas budaya lokal mereka.

Benefit of Abundance Water Source vs Waste

Berlimpahnya ketersediaan sumber air di Indonesia merupakan salah satu faktor kunci yang membuat produktivitas industri garmen Indonesia berada pada peringkat 9 dan industri tekstil peringkat ke-11 dunia dengan nilai pasar USD 15,9 miliar pada tahun 2015. Lebih dari 200 manufaktur pakaian internasional di Indonesia telah mengeksploitasi sumber air setempat. Limbah yang buruk menyebabkan aliran air tercemar. Zat-zat beracun dibuang ke air dan berbahaya bila dikonsumsi oleh penduduk setempat. Limbah pewarnaan yang tidak di proses terlebih dahulu dari produksi tekstil yang langsung dibuang ke air menutupi permukaan air dan menghalangi proses fotosintesis, sehingga mengurangi oksigen di dalam air, yang pada akhirnya mengancam keseluruhan mikroorganisme.

Modest Wear vs Environment

Bagi banyak wanita Muslim, abaya yang ditambah dengan jilbab yang menutupi leher dan dada merupakan kombinasi termudah yang sesuai dengan kode berpakaian sederhana. Namun, pakaian ini sering menjadi penghalang dalam memenuhi tanggung jawabnya dalam melestarikan lingkungan. Seringkali, mereka terbuat dari kain poliester, rayon dan nilon – sintetis yang memiliki efek merusak pada lingkungan. Mereka diciptakan oleh sejumlah proses kimiawi kompleks dan perawatan yang memburuk ekosistem melalui emisi polusi dan konsumsi energi yang intensif.

Penting untuk dicatat bahwa ini juga tentang mengurangi jumlah pohon yang ditebang karena begitu banyak bahan baku yang dibutuhkan untuk satu potong abaya, mengurangi jumlah pakaian di tempat pembuangan akhir dan mengurangi dampak negatif produk agro-kimia yang digunakan dalam produksi tanaman serat konvensional, mis. kapas.